Dari Tegalrejo, Pemuda Menanam Harapan untuk Masa Depan Pertanian

- Editor

Sabtu, 8 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari Tegalrejo, Pemuda Menanam Harapan untuk Masa Depan Pertanian. (ist)

i

Dari Tegalrejo, Pemuda Menanam Harapan untuk Masa Depan Pertanian. (ist)

DIKSIKU.com, Kendal – Masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh mereka yang setiap hari turun ke sawah. Di balik tanah yang digarap, benih yang ditanam, dan hasil panen yang dinikmati masyarakat, ada satu persoalan besar yang harus dipikirkan bersama: siapa yang akan melanjutkan perjuangan para petani ketika generasi mereka mulai menua?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Persatuan Pemuda Tegalrejo Rowosari (PEPETEROS) melalui kegiatan Guyub Tani yang digelar di Dusun Tegalrejo, Desa Rowosari, Kabupaten Kendal, Jumat (7/8/2026).

Mengusung tema “Tanam Cerdas, Rawat Tepat, Panen Meningkat”, kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan antara petani dan pemuda. Guyub Tani menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, gagasan, sekaligus menumbuhkan kembali kebanggaan terhadap dunia pertanian.

Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan tantangan regenerasi petani, PEPETEROS ingin menunjukkan bahwa pemuda desa memiliki tempat penting dalam menentukan arah pertanian di masa depan.

Ketika Pemuda Mulai Bertanya tentang Masa Depan Petani

Guyub Tani diawali dengan Temu Lapang Melati, kemudian dilanjutkan registrasi peserta, pembukaan, dan sambutan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan).

Suasana berlangsung sederhana, namun penuh keakraban. Petani, pemuda, masyarakat, dan berbagai pihak duduk bersama membicarakan persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: pertanian.

Salah satu agenda utama adalah bincang pertanian bersama Rayndra Syahdan Mahmudin, S.ST., M.MA., Ketua Umum Duta Petani Milenial Andalan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Pesan yang disampaikan cukup sederhana, tetapi menyentuh persoalan mendasar regenerasi petani.

“Jangan gengsi menjadi petani.”

Menurut Rayndra, masih ada anggapan bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang kotor, tidak menjanjikan, atau bahkan tidak keren. Padahal, keberadaan petani merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat karena dari tangan merekalah sumber pangan dihasilkan.

“Tanpa petani kita tidak akan memiliki sumber pangan,” ujarnya.

Persoalan tersebut semakin penting ketika usia petani terus bertambah. Jika generasi muda tidak mulai tertarik masuk ke sektor pertanian, maka keberlanjutan produksi pangan di masa depan dapat menghadapi tantangan serius.

Karena itu, anak muda perlu melihat pertanian dari sudut pandang yang berbeda.

Pertanian bukan sekadar mencangkul dan menanam. Pertanian juga membutuhkan teknologi, kreativitas, manajemen, pemasaran, digitalisasi, inovasi, hingga kemampuan membaca peluang pasar.

Baca Juga :  Meriahkan Peringatan Hari Ibu, Rutan Sinjai Gelar Lomba Masak Dihadiri Ketua TP PKK

Dengan cara pandang tersebut, petani masa kini dapat menjadi sosok yang modern, inovatif, produktif, dan memiliki daya saing.

Dari Hama Tanaman hingga Teknologi Pertanian

Guyub Tani juga tidak berhenti pada diskusi mengenai regenerasi.

Para peserta mendapatkan penyuluhan teknis mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman yang disampaikan oleh Dian Sopandi dari Petrokimia Kayaku Gresik.

Materi mencakup pengenalan organisme pengganggu tanaman, pencegahan, serta teknik pengendalian yang tepat dalam proses budidaya.

Bagi petani, pengetahuan seperti ini memiliki nilai praktis. Sebab persoalan hama dan penyakit tanaman dapat secara langsung memengaruhi pertumbuhan maupun hasil panen.

Diskusi berlangsung interaktif. Para petani menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari budidaya, pemupukan, serangan hama dan penyakit, hingga bagaimana meningkatkan produktivitas.

Di sinilah nilai penting Guyub Tani terlihat.

Pengetahuan tidak hanya berjalan satu arah dari pemateri kepada peserta. Pengalaman petani di lapangan juga menjadi bagian dari proses belajar bersama.

Pemuda Desa Tidak Harus Menunggu untuk Berbuat

Kegiatan tersebut turut dihadiri Sisca Meritania, S.H., Ketua Komisi C DPRD Kendal, yang hadir atas undangan PEPETEROS.

Sisca memberikan apresiasi terhadap kepedulian pemuda Tegalrejo yang tidak hanya bergerak dalam kegiatan sosial, tetapi juga mulai mengambil perhatian terhadap pertanian dan lingkungan.

Menurutnya, keterlibatan pemuda merupakan modal penting dalam membangun masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan wilayahnya.

Kepedulian tersebut juga tercermin melalui berbagai kegiatan lingkungan, seperti penanaman pohon, edukasi masyarakat, serta ajakan untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Pesannya menjadi relevan dengan semangat Guyub Tani: pemuda tidak harus menunggu memiliki jabatan atau kekuasaan untuk mulai memberikan manfaat.

Mereka dapat memulai dari kampungnya sendiri.

Dari Kampung Pesisir, Tumbuh Kepedulian terhadap Pertanian

Ada hal menarik dari Guyub Tani PEPETEROS.

Kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan kampung yang berada di kawasan pesisir. Namun kondisi geografis tersebut tidak membuat pemuda Tegalrejo kehilangan perhatian terhadap pertanian.

Justru dari tempat inilah muncul kesadaran bahwa persoalan pertanian merupakan persoalan bersama.

Pertanian berkaitan dengan pangan, ekonomi, lingkungan, lapangan pekerjaan, hingga masa depan generasi berikutnya.

Pemuda memiliki posisi strategis untuk menjadi jembatan antara pengalaman petani dengan perkembangan teknologi.

Baca Juga :  Resmi Pimpin Polres Bone, Ini Rekam Jejak AKBP Astoto Budi Rahmantyo

Pengetahuan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi dapat bertemu dengan inovasi baru yang dibawa anak-anak muda.

Jika keduanya berjalan bersama, pertanian tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh.

Guyub Tani dan Sebuah Pesan tentang Regenerasi

Suasana semakin hangat ketika peserta saling bertukar cerita dan pengalaman.

Para petani mendapatkan wawasan baru, sementara pemuda memperoleh kesempatan untuk melihat lebih dekat realitas kehidupan petani.

Kegiatan kemudian ditutup dengan penjualan berhadiah yang menambah semarak suasana.

Namun, esensi Guyub Tani jauh lebih besar daripada rangkaian acaranya.

Ia adalah sebuah pesan.

Bahwa pertanian membutuhkan generasi penerus.

Bahwa petani membutuhkan perhatian.

Dan bahwa pemuda desa memiliki peran untuk memastikan sektor pertanian tidak kehilangan masa depannya.

PEPETEROS ingin membangun ruang kolaborasi antara petani, pemuda, masyarakat, penyuluh, pelaku usaha, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pertanian.

Sebab membangun pertanian tidak bisa dilakukan sendirian.

Menanam Bukan Hanya Benih, tetapi Harapan

Pada akhirnya, Guyub Tani mengajarkan sesuatu yang sederhana.

Setiap benih yang ditanam petani bukan hanya berharap tumbuh menjadi tanaman. Di dalamnya ada harapan tentang pangan, kehidupan, ekonomi keluarga, dan masa depan masyarakat.

Begitu pula dengan keterlibatan pemuda.

Ketika seorang anak muda mau belajar tentang pertanian, berdiskusi dengan petani, membantu mengembangkan teknologi, menjaga lingkungan, atau sekadar ikut peduli terhadap persoalan pangan di kampungnya, sesungguhnya ia sedang menanam sesuatu.

Bukan benih di tanah.

Tetapi benih kepedulian.

Dari benih itulah regenerasi dapat tumbuh.

Dari Dusun Tegalrejo, pesan tersebut digaungkan dengan sederhana:

“Menjadi pemuda yang peduli terhadap nasib pertanian di kampungnya.”

Karena masa depan pertanian bukan hanya tentang siapa yang menanam hari ini.

Tetapi tentang siapa yang bersedia melanjutkan ketika generasi berikutnya tiba.

Dan mungkin, masa depan itu sedang mulai tumbuh dari pemuda-pemuda Tegalrejo yang memilih untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut turun tangan menjaga tanah, pangan, lingkungan, dan kehidupan di kampungnya.

Guyub Tani PEPETEROS akhirnya bukan hanya tentang pertanian. Ia adalah cerita tentang kepedulian, regenerasi, gotong royong, dan keberanian anak muda untuk ikut menjaga masa depan dari tempat mereka berpijak.** (Rizal Firm)

Penulis : Rizal

Editor : Idhul Abdullah

Berita Terkait

Pemprov Sulsel dan Pemkab Wajo Sepakati PI Migas Sengkang 10 Persen
Rutan Sinjai Libatkan Petugas Gabungan Perkuat Pengawasan Razia dan Tes Urine
Drama Adu Penalti, Bone BerAmal FC Rebut Piala Gubernur Sulsel
Debit Sungai Saddang Menurun, Pemprov Sulsel Siapkan Pompanisasi dan Usulkan Rehabilitasi Rp1,8 Triliun
Rutan Sinjai Gelar Salat Istisqa, Doa Bersama Memohon Turun Hujan
VIDEO : Semarak Maulid di Masjid Badrissalam, Wabup Bone Puji Kekompakan Warga Perumahan BCM
Turnamen Mini Soccer BRI Cabang Sinjai, Bupati Ratnawati Arif: Ajang Olahraga Sarana Membangun Kebersamaan
Bupati Ratnawati Arif Serahkan Penghargaan Pancawarsa I, Termasuk Dua Orang Jajaran Rutan Sinjai

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 21:33 WITA

Pemprov Sulsel dan Pemkab Wajo Sepakati PI Migas Sengkang 10 Persen

Senin, 21 September 2026 - 20:49 WITA

Drama Adu Penalti, Bone BerAmal FC Rebut Piala Gubernur Sulsel

Minggu, 20 September 2026 - 20:13 WITA

Debit Sungai Saddang Menurun, Pemprov Sulsel Siapkan Pompanisasi dan Usulkan Rehabilitasi Rp1,8 Triliun

Jumat, 18 September 2026 - 09:31 WITA

Rutan Sinjai Gelar Salat Istisqa, Doa Bersama Memohon Turun Hujan

Selasa, 15 September 2026 - 19:29 WITA

VIDEO : Semarak Maulid di Masjid Badrissalam, Wabup Bone Puji Kekompakan Warga Perumahan BCM

Senin, 14 September 2026 - 13:32 WITA

Turnamen Mini Soccer BRI Cabang Sinjai, Bupati Ratnawati Arif: Ajang Olahraga Sarana Membangun Kebersamaan

Sabtu, 12 September 2026 - 10:25 WITA

Bupati Ratnawati Arif Serahkan Penghargaan Pancawarsa I, Termasuk Dua Orang Jajaran Rutan Sinjai

Rabu, 9 September 2026 - 10:42 WITA

Muhammad Rusdi Dorong Transformasi Pendidikan Bone Berbasis Teknologi dan Karakter

Berita Terbaru

Eks Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. (ist)

Nasional

Purbaya Bongkar Alasan Pencopotannya dari Menkeu

Kamis, 24 Sep 2026 - 12:56 WITA