DIKSIKU.com, Bone – Transformasi pendidikan di Kabupaten Bone dinilai tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat teknologi di sekolah. Perubahan harus diikuti dengan peningkatan kompetensi guru, penguatan kepemimpinan kepala sekolah, pemanfaatan data serta pembentukan budaya belajar digital.
Gagasan tersebut menjadi perhatian Muhammad Rusdi yang memiliki pengalaman panjang di dunia pendidikan, mulai dari guru, wakil kepala sekolah, kepala sekolah, pengawas SMP hingga terlibat dalam pengelolaan ketenagaan pendidikan. Ia juga merupakan Ketua PGRI Kabupaten Bone.
Pengalaman lebih dari tiga dekade tersebut membuat transformasi pendidikan dipandang tidak sebatas persoalan pengadaan sarana, tetapi menyangkut perubahan manusia dan budaya kerja di lingkungan sekolah.
“Pendidikan harus dipahami sebagai sebuah ekosistem yang mempertemukan guru, kepala sekolah, peserta didik, orang tua, teknologi, kebijakan, dan budaya belajar,” demikian gagasan yang tercermin dari pengalaman profesional Rusdi.
Menurutnya, digitalisasi sekolah juga tidak boleh berhenti pada pembelian komputer, penyediaan jaringan internet, layar interaktif maupun platform pembelajaran.
Teknologi baru akan memberikan dampak apabila diikuti kemampuan dan kebiasaan seluruh unsur sekolah dalam memanfaatkannya secara tepat.
Karena itu, arah transformasi pendidikan Bone perlu digeser dari sekadar digitalisasi perangkat menjadi digitalisasi budaya sekolah.
Guru, misalnya, tidak cukup hanya mampu mengoperasikan aplikasi. Mereka perlu menguasai kemampuan memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran, membuat bahan ajar digital, membaca data hasil belajar hingga memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara kritis dan bertanggung jawab.
“Guru tidak cukup hanya mampu mengoperasikan aplikasi. Kompetensi digital guru harus bergerak ke tingkat yang lebih tinggi,” demikian gagasan yang disampaikan dalam naskah tersebut.
Kepala Sekolah Jadi Kunci
Perubahan budaya pendidikan juga sangat bergantung pada kepemimpinan kepala sekolah.
Kepala sekolah dituntut tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi menjadi pemimpin pembelajaran yang memastikan setiap kebijakan sekolah berdampak terhadap peningkatan kualitas belajar peserta didik.
Dalam transformasi digital, kepala sekolah dapat mendorong guru menggunakan sumber belajar digital, memanfaatkan data hasil belajar, membangun komunitas belajar serta mengenalkan penggunaan AI secara etis.
Rusdi juga menilai pengembangan kompetensi guru tidak seharusnya hanya dilakukan melalui seminar atau pelatihan singkat.
“Yang dibutuhkan adalah pendampingan berkelanjutan, praktik nyata, komunitas belajar, berbagi pengalaman antarguru, dan evaluasi terhadap perubahan yang terjadi di kelas,” demikian gagasan dalam naskah tersebut.
Untuk memperkuat proses tersebut, setiap sekolah dapat membangun Digital Learning Community sebagai ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman dan praktik pembelajaran berbasis teknologi.
Guru yang lebih menguasai teknologi dapat menjadi mentor bagi guru lainnya. Dengan pola ini, inovasi tidak harus selalu datang dari tingkat atas, tetapi dapat tumbuh dari ruang kelas.
Digitalisasi Harus Disesuaikan Kondisi Sekolah
Kabupaten Bone memiliki wilayah yang luas dengan kondisi sekolah yang berbeda-beda. Karena itu, penerapan digitalisasi pendidikan dinilai tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk seluruh sekolah.
Sekolah yang memiliki jaringan dan perangkat memadai tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Pemetaan kesiapan sekolah menjadi salah satu langkah yang diperlukan. Sekolah dapat dikategorikan sebagai sekolah pemula, berkembang dan maju sesuai tingkat kesiapan digitalnya.
Sekolah pemula dapat difokuskan pada penguatan infrastruktur dasar dan kompetensi digital guru. Sekolah berkembang diarahkan pada integrasi teknologi dalam proses pembelajaran, sementara sekolah yang lebih maju dapat dikembangkan sebagai pusat inovasi bagi sekolah lainnya.
Dalam jangka panjang, gagasan tersebut dapat dikembangkan melalui Bone Digital Learning Ecosystem.
Konsep tersebut bukan sekadar membangun aplikasi baru, melainkan menghubungkan berbagai sumber daya pendidikan yang telah tersedia, mulai dari data sekolah, guru, perkembangan peserta didik, bahan ajar, pelatihan hingga asesmen.
“Data dapat digunakan untuk menentukan intervensi yang tepat sehingga kebijakan pendidikan tidak hanya berbasis asumsi, tetapi semakin kuat berbasis evidence dan data,” demikian gagasan yang tertuang dalam naskah tersebut.
AI Tak Boleh Menggantikan Peran Guru
Perkembangan AI juga menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan guru untuk mengembangkan ide pembelajaran, membuat variasi materi, menyusun latihan hingga mencari alternatif metode mengajar.
Namun, AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti guru.
Peserta didik justru perlu dibekali pemahaman bahwa teknologi tersebut merupakan alat bantu, bukan pengganti proses berpikir.
“AI tidak boleh menggantikan guru, tetapi harus menjadi alat bantu untuk memperkuat kapasitas guru dan peserta didik,” demikian prinsip yang ditegaskan dalam naskah.
Pemanfaatan AI juga harus berjalan bersama penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, verifikasi informasi, etika akademik dan kemampuan memecahkan masalah.
Pada akhirnya, transformasi digital pendidikan di Bone tetap harus berakar pada karakter. Peserta didik tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai orang lain serta memahami budaya lokal.
Gagasan tersebut menempatkan teknologi sebagai alat, guru sebagai pengarah, kepala sekolah sebagai pemimpin perubahan dan dinas pendidikan sebagai penggerak ekosistem.
Dengan demikian, agenda transformasi pendidikan Bone tidak berhenti pada terciptanya “sekolah digital”, tetapi diarahkan menuju terbentuknya budaya belajar digital yang berlangsung secara berkelanjutan.
“Transformasi tidak lagi bergantung pada seberapa banyak perangkat yang dimiliki, tetapi pada seberapa kuat manusia di dalamnya mampu menggunakan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.”
Penulis : Idhul Abdullah
Editor : Idhul Abdullah




















