DIKSIKU.com, Makassar – Fauziah Zulfitri, yang akrab disapa Kak Ochy, menawarkan konsep kepemimpinan berbasis kolaborasi dan profesionalisme dalam pencalonannya sebagai Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Sulawesi Selatan. Gagasan bertajuk “ILUNI dengan HATI” itu disiapkan menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) I yang dijadwalkan berlangsung pada 17 Oktober 2026.
Melalui konsep tersebut, Kak Ochy ingin menjadikan organisasi alumni bukan sekadar wadah silaturahmi, tetapi juga ruang untuk mengembangkan karier, membangun jejaring profesional, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat Sulawesi Selatan.
Visi yang diusungnya adalah mewujudkan ILUNI UI Sulawesi Selatan yang hangat, kolaboratif, dan berdampak bagi anggota maupun masyarakat.
Gagasan itu bertumpu pada empat agenda utama yang dirangkum dalam akronim HATI, yakni Hubungkan, Akselerasi, Tebar Manfaat, dan Integritas.
Agenda Hubungkan diarahkan untuk membangun jejaring alumni lintas generasi, fakultas, profesi, dan wilayah. Sementara Akselerasi berfokus pada pengembangan karier, bisnis, kompetensi, dan kepemimpinan melalui program mentoring, coaching, serta jejaring profesional.
Adapun Tebar Manfaat ditujukan untuk menggerakkan keahlian dan sumber daya alumni menjadi kolaborasi produktif bagi masyarakat. Sementara Integritas menekankan tata kelola organisasi yang profesional, transparan, akuntabel, dan partisipatif, termasuk menyiapkan regenerasi kepemimpinan.
Keempat agenda tersebut direncanakan diterapkan melalui program HATI Connect, HATI Mentoring & Career Lab, HATI untuk Sulsel, dan HATI Amanah.
Salah satu gagasan yang ditawarkan adalah menetapkan satu isu prioritas Sulawesi Selatan setiap tahun. Isu tersebut akan menjadi fokus kajian, dialog dengan berbagai pemangku kepentingan, penyusunan rekomendasi, hingga pelaksanaan aksi kolaboratif alumni.
Kak Ochy juga mendorong pengukuran kinerja organisasi berdasarkan manfaat yang dihasilkan, bukan semata-mata jumlah kegiatan. Indikator yang direncanakan mencakup partisipasi alumni, manfaat program mentoring, peluang kolaborasi, hasil kegiatan sosial, serta tingkat kepuasan anggota.
Dari sisi tata kelola, ia mengusulkan pelaporan kegiatan dan keuangan setiap tiga bulan, evaluasi kepuasan anggota, serta pengembangan kader kepemimpinan muda.
“Kepemimpinan dengan HATI bukan berarti mengesampingkan logika dan ketegasan. Justru di situlah empati, profesionalisme, dan integritas harus berjalan bersama untuk menghasilkan manfaat nyata,” ujar Kak Ochy.
Berbekal Pengalaman Korporasi dan Pengembangan Organisasi
Kak Ochy membangun karier profesionalnya di Jakarta melalui sejumlah perusahaan nasional dan multinasional, di antaranya Tempo, ACNielsen, Experd Consulting, dan Woodgroup Indonesia.
Setelah mencapai posisi Senior Manager, pada 2009 ia dipercaya CT Corp memimpin operasional Trans Studio Theme Park Makassar. Kariernya kemudian berlanjut hingga menjabat Direktur Hospitality Group di Bosowa Corporation.
Pada 2016, ia mendirikan Insight Indonesia, perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pengembangan manusia, kepemimpinan, dan organisasi. Berbasis di Makassar, perusahaan tersebut mengusung semangat “Insight dari Timur Indonesia”.
Selama satu dekade, Insight Indonesia disebut telah menangani lebih dari 250 klien dari kalangan BUMN, perusahaan multinasional, pelaku usaha, dan institusi pemerintahan di berbagai wilayah Indonesia, serta Malaysia dan Timor-Leste.
Di luar dunia usaha, Kak Ochy aktif dalam pengembangan komunitas profesional dan kepemimpinan perempuan. Ia merupakan pendiri Muslim Women Space dan Nuura Kamala Inspira, Wakil Ketua DPD Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia Sulawesi Selatan, serta bagian dari Leadership Team International Coaching Federation Jakarta Charter Chapter.
Ia juga memiliki kredensial Professional Certified Coach (PCC) dari International Coaching Federation, sertifikasi Asesor Kompetensi BNSP, dan tergabung dalam Maxwell Leadership Certified Team. Pengalamannya di bidang kepemimpinan turut dituangkan dalam dua buku, yakni I Am Your Coach dan Becoming Assertive Leader.
Menurut Kak Ochy, organisasi alumni memiliki modal sosial dan intelektual yang besar. Tantangan utamanya adalah menghubungkan potensi tersebut dengan kebutuhan anggota dan persoalan nyata di masyarakat.
“Organisasi alumni seharusnya tidak hanya menjadi tempat kita bertemu kembali, tetapi juga ruang untuk saling menguatkan, membuka kesempatan, dan menghasilkan karya bersama. Kehangatan membangun rasa memiliki, sementara profesionalisme memastikan setiap gerakan memiliki arah dan hasil,” ungkapnya.
Melalui pencalonan tersebut, Kak Ochy berharap pengalamannya membangun organisasi dan mengembangkan kepemimpinan dari Makassar dapat menjadi bagian dari kontribusi bagi almamater dan Sulawesi Selatan.
Dengan semangat “Hangat Bersama, Tajam Berdampak”, ia membawa gagasan agar jejaring alumni dapat berkembang menjadi kekuatan kolaboratif yang memberikan manfaat terukur bagi anggota dan masyarakat. (ril)
Penulis : Dirga
Editor : Idhul Abdullah




















