DIKSIKU.com, Bone – Kontingen Karnaval Majelis Taklim Badrissalam Perumahan Bumi Cilellang Mas tampil memukau dengan mengusung konsep pesisir yang dipadukan dengan nuansa tradisional dan budaya Bugis dalam memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Konsep tersebut terlihat dari penampilan para peserta yang membawa berbagai ornamen bernuansa laut dan budaya lokal. Bagian depan rombongan menampilkan sosok Ratu Pesisir yang didampingi dua dayang.
Ratu Pesisir dan kedua dayangnya tampil anggun dengan iringan alat musik tradisional Bugis berupa pui-pui dan gendang, yang semakin memperkuat karakter budaya dalam penampilan kontingen tersebut.
Di belakangnya, rombongan ibu-ibu Majelis Taklim tampil kompak mengenakan kostum serba putih. Mereka mengenakan mahkota yang dibuat dari kerang serta sayap dengan bentuk menyerupai kerang.
Tak hanya melalui kostum peserta, nuansa pesisir juga diperkuat dengan kehadiran sebuah mobil yang dihias menyerupai kapal. Kendaraan tersebut tampil dengan dominasi nuansa merah putih, lengkap dengan ornamen jangkar yang semakin mempertegas konsep kapal dan kehidupan masyarakat pesisir.

Kehadiran mobil berbentuk kapal itu menjadi salah satu bagian yang mencuri perhatian dalam penampilan kontingen. Ornamen tersebut sekaligus menjadi simbol yang menghubungkan tema pesisir dengan semangat kemerdekaan yang diusung dalam perayaan HUT ke-81 RI.
Ketua Kontingen Karnaval Majelis Taklim Perumahan Bumi Cilellang Mas, Nikmah, mengatakan seluruh konsep yang ditampilkan merupakan hasil kreativitas dan kerja bersama para anggota Majelis Taklim.
Ia berharap kreativitas seluruh kontingen dapat dinilai secara objektif oleh tim juri. Menurutnya, penilaian semestinya didasarkan pada konsep, kreativitas, kekompakan, serta kesesuaian tema yang ditampilkan masing-masing peserta.
Nikmah mengaku memiliki pengalaman pada pelaksanaan karnaval tahun sebelumnya yang menurutnya membuat pihaknya mempertanyakan objektivitas hasil penilaian.
“Namun karena kontingen ini punya orang dalam, jadi juara,” ketusnya.
Ia menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkan siapa yang keluar sebagai juara selama keputusan tersebut benar-benar berdasarkan penilaian yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, seluruh peserta telah mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya untuk menampilkan kreativitas terbaik mereka. Karena itu, proses penjurian diharapkan tidak dipengaruhi faktor kedekatan maupun kepentingan tertentu.

Nikmah bahkan menyatakan pihaknya siap mempertimbangkan untuk tidak kembali mengikuti karnaval apabila persoalan objektivitas penilaian kembali terjadi.
“Jika tidak objektif, kami tidak mau lagi ikut karnaval. Karena percuma, penilaiannya bukan dari kreativitas, tapi berdasarkan orang dalam,” tandasnya.
Meski menyampaikan kritik tersebut, Nikmah berharap pelaksanaan karnaval tahun ini dapat berlangsung meriah dan memberikan ruang yang adil bagi seluruh peserta untuk menunjukkan kreativitas.
Bagi kontingen Majelis Taklim Bumi Cilellang Mas, karnaval bukan hanya ajang untuk mengejar juara, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bugis, menggambarkan kehidupan masyarakat pesisir, sekaligus menanamkan semangat kemerdekaan melalui kreativitas masyarakat.
Penulis : Idhul Abdullah
Editor : Idhul Abdullah



















