Ulama Jelaskan Hukum Mengeluarkan Mani di Luar untuk Cegah Kehamilan

- Editor

Selasa, 2 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ulama Jelaskan Hukum Mengeluarkan Mani di Luar untuk Cegah Kehamilan (int)

i

Ulama Jelaskan Hukum Mengeluarkan Mani di Luar untuk Cegah Kehamilan (int)

DIKSIKU.com, Jakarta – Perdebatan mengenai hukum mengeluarkan mani di luar vagina (al-‘azl) kembali menjadi perhatian di kalangan umat Islam. Metode yang juga dikenal sebagai coitus interruptus ini kerap dipertanyakan pasangan suami istri yang ingin menunda kehamilan karena alasan ekonomi, kesehatan, hingga kesiapan mental.

Dalam literatur fikih, praktik al-‘azl telah lama dibahas para ulama. Penjelasan ini di antaranya tertuang dalam Fiqih Islam wa Adillatuh karya Syekh Wahbah az-Zuhayli, yang menyebut bahwa pendapat ulama mengenai hukum al-‘azl tidak bersifat tunggal.

Syekh Wahbah az-Zuhayli menjelaskan bahwa sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali menilai praktik tersebut makruh. Pandangan itu merujuk pada hadis riwayat Muslim dari Aisyah RA, yang menyebut al-‘azl sebagai perbuatan “pembunuhan samar”. Meski demikian, larangan tersebut dipahami sebagai makruh tanzih, yaitu tidak berdosa bila dilakukan namun lebih baik dihindari.

Dalam kutipan kitab tersebut dijelaskan:

“Hanya ulama dari kalangan madzhab Syafi’i, Hanbali, dan sejumlah sahabat menyatakan kemakruhan azal… Namun Imam Al-Ghazali membolehkan azal karena sejumlah sebab, salah satunya banyaknya kesulitan akibat banyaknya anak.”

Baca Juga :  Saat Duka Menyelimuti, Bripka Andi Rusman Hadir Dengan Bantuan Penuh Arti

Syekh Wahbah menambahkan bahwa penggunaan kontrasepsi modern seperti pil KB atau alat pencegah kehamilan lainnya diperbolehkan, selama pemakaiannya bersifat sementara dan tidak menutup peluang kehamilan secara permanen.

Hadis lain yang menunjukkan adanya ruang kebolehan praktik al-‘azl juga diriwayatkan dari Jabir RA. Dalam Bulughul Maram disebutkan bahwa para sahabat melakukan al-‘azl pada masa Rasulullah SAW ketika wahyu masih turun, dan Nabi tidak memberikan larangan tegas.

“Kami biasa melakukan ‘azl pada zaman Rasulullah SAW… Jika itu dilarang, tentu Al-Qur’an melarang kami,” demikian bunyi hadis tersebut.

Meski begitu, perbedaan pendapat ulama tetap muncul karena adanya beberapa riwayat yang memberi kesan larangan sementara praktik sahabat menunjukkan kebolehan.

Imam Al-Ghazali menjadi salah satu ulama yang memberikan pandangan lebih longgar. Ia menilai bahwa al-‘azl dapat dibolehkan ketika terdapat alasan kuat, seperti risiko kesehatan, tekanan ekonomi, atau kekhawatiran munculnya beban berat akibat banyaknya anak. Pertimbangan ini dianggap selaras dengan prinsip pencegahan mudarat dalam syariat.

Baca Juga :  Dari Bayi Sudah Daftar, Kini Syafina 13 Tahun Wujudkan Impian Haji

Dalam konteks modern, sejumlah ulama kontemporer menilai alasan yang dikemukakan Al-Ghazali semakin relevan, terutama berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, pendidikan, hingga tekanan ekonomi keluarga. Karena itu, perencanaan kehamilan melalui al-‘azl atau metode kontrasepsi lain dianggap bagian dari upaya menjaga kemaslahatan.

Para ulama juga menekankan pentingnya persetujuan bersama antara suami dan istri, karena hak memperoleh keturunan merupakan hak kedua belah pihak.

Secara umum, praktik al-‘azl berada pada wilayah mubah hingga makruh, bergantung pada tujuan dan kondisi pasangan. Selama tidak menimbulkan mudarat dan dilakukan atas dasar kesepakatan, metode ini dinilai tidak haram dan dapat menjadi bagian dari perencanaan keluarga yang bertanggung jawab.

Penulis : Redaksi Diksiku

Editor : Rahmah M

Sumber Berita : detikcom

Berita Terkait

Heboh! Istri Digoyang Pria Lain, Keluarga Suami Datang Menggerebek Dini Hari
Viral di Bone, Kampanye Tolak Keikutsertaan “Boti” dalam Gerak Jalan 17 Agustus Tuai Pro-Kontra
Kisah Zian Fahrezi, Qari Cilik Juara Dunia yang Ditempa Sejak Usia Dini
Bea Cukai Perketat Pengawasan Rokok Ilegal Lewat Operasi ASAP 2026
Kejagung Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Terkait Kasus ASABRI dan Dugaan TPPU
Kejagung Tancap Gas, Tim 9 Dibentuk Usut Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah
DPRD Bone Minta PT Jemla Ferry Pertimbangkan Dampak Sebelum Alihkan KMP Masagena
“Ke Mana Wakil Rakyat Kita?” WIB Soroti Kinerja DPRD Bone

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:21 WITA

Viral di Bone, Kampanye Tolak Keikutsertaan “Boti” dalam Gerak Jalan 17 Agustus Tuai Pro-Kontra

Minggu, 2 Agustus 2026 - 16:57 WITA

Kisah Zian Fahrezi, Qari Cilik Juara Dunia yang Ditempa Sejak Usia Dini

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:27 WITA

Bea Cukai Perketat Pengawasan Rokok Ilegal Lewat Operasi ASAP 2026

Jumat, 24 Juli 2026 - 17:42 WITA

Kejagung Tahan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Terkait Kasus ASABRI dan Dugaan TPPU

Kamis, 16 Juli 2026 - 09:15 WITA

Kejagung Tancap Gas, Tim 9 Dibentuk Usut Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah

Rabu, 1 Juli 2026 - 23:25 WITA

DPRD Bone Minta PT Jemla Ferry Pertimbangkan Dampak Sebelum Alihkan KMP Masagena

Rabu, 10 Juni 2026 - 20:37 WITA

“Ke Mana Wakil Rakyat Kita?” WIB Soroti Kinerja DPRD Bone

Selasa, 9 Juni 2026 - 15:23 WITA

PPPK Paruh Waktu Dialihkan ke Outsourcing, Ribuan Pegawai Terancam Kehilangan Status ASN

Berita Terbaru