DIKSIKU.com, Bone — Tidak banyak pilihan yang dimiliki Ani (51) ketika rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berlindung keluarganya perlahan kehilangan kekuatannya.
Di Desa Ajallase, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, perempuan yang telah lima tahun menyandang status janda itu masih bertahan di sebuah rumah panggung yang kondisinya semakin memprihatinkan.
Sejumlah tiang penyangga rumah telah patah. Bangunan mulai miring dan tidak lagi berdiri kokoh seperti dulu. Setiap kali berada di dalam rumah, Ani dan anak-anaknya harus hidup bersama rasa cemas.
Bagi keluarga lain, rumah mungkin menjadi tempat untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian. Namun bagi Ani, rumah itu kini justru menjadi tempat yang menghadirkan kekhawatiran.
“Bisa kita lihat sendiri bagaimana kondisi rumahku, Nak. Sebagian tiang di belakang sudah patah. Kalau kami di atas rumah, selalu was-was karena rumah ini sudah mau roboh,” kata Ani dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya, Kamis siang (3/9/2026).
Kerusakan rumah tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Namun, memperbaikinya bukan perkara mudah bagi Ani.
Sebagai seorang ibu yang harus menghidupi keluarga seorang diri, penghasilannya hanya berasal dari pekerjaan serabutan. Saat musim panen tiba dan ada warga yang membutuhkan tenaga, Ani ikut memanen padi.
Di waktu lain, ia bekerja di sebuah gudang yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut tidak seberapa. Sebagian besar habis untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Di tengah keterbatasan itu, Ani masih harus memastikan anak-anaknya tetap mendapatkan pendidikan.
Saat ini, tiga anaknya masih tinggal bersamanya. Dua di antaranya masih duduk di bangku SMP. Salah satunya bersekolah di SMP Cenrana, sedangkan seorang lainnya mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.
Sementara satu anak lainnya memilih ikut bekerja bersama warga untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Bertahan karena Anak
Ani sebenarnya pernah mendapat tawaran dari pamannya untuk meninggalkan rumah tersebut dan tinggal di kota.
Namun, tawaran itu belum bisa diterimanya.
Ada anak yang masih bersekolah di Cenrana. Sementara untuk tinggal di kota, Ani menyadari kebutuhan hidup akan jauh lebih besar.
“Sebenarnya saya pernah disuruh tinggal di kota oleh om saya, Nak. Cuma anak saya masih SMP di sini. Kalau di kota semuanya perlu uang. Kalau di sini saya masih bisa ikut kerja di gudang,” tuturnya.
Pilihan itu akhirnya membuat Ani tetap tinggal di rumah yang ia sendiri tahu sudah tidak aman.
Bukan karena rumah tersebut masih layak dihuni. Bukan pula karena ia tidak memiliki kekhawatiran.
Ia bertahan karena di sanalah ia masih memiliki kesempatan untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya.
Bahkan, kekhawatiran itu membuat Ani harus mengambil keputusan yang terasa berat sebagai seorang ibu.
Beberapa hari lalu, salah seorang anaknya yang telah berkeluarga datang bersama cucunya untuk mengunjungi dirinya.
Seharusnya, kedatangan anak dan cucu menjadi momen yang membahagiakan. Namun Ani justru meminta mereka segera kembali.
Ia bukan tidak ingin ditemani.
Ani hanya takut terlalu banyak orang berada di dalam rumah yang tiang-tiang penyangganya sudah mulai patah.
Ia khawatir bangunan yang semakin rapuh itu tidak mampu menahan beban orang-orang yang berada di dalamnya.
Rumah yang Berubah Menjadi Kekhawatiran
Rumah itu telah menjadi saksi perjalanan hidup Ani dan keluarganya selama bertahun-tahun.
Di tempat itulah anak-anaknya tumbuh. Di tempat itu pula Ani menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga.
Namun, waktu perlahan mengubah rumah tersebut.
Tiang yang dahulu menopang bangunan kini sebagian telah patah. Rumah yang dulu memberikan perlindungan justru menghadirkan rasa takut.
Setiap kali berada di dalam rumah, Ani harus menyimpan kekhawatiran yang sama: bagaimana jika bangunan itu benar-benar roboh?
Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena Ani tidak memiliki kemampuan finansial untuk melakukan perbaikan besar.
Harapan satu-satunya adalah bantuan.
Ani berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat memberikan bantuan bedah rumah agar keluarganya bisa tinggal di tempat yang lebih layak dan aman.
Ia mengaku semakin prihatin ketika melihat sejumlah warga di sekitar tempat tinggalnya yang kondisi rumahnya dinilai masih lebih baik justru telah memperoleh bantuan bedah rumah.
Sementara rumahnya yang mengalami kerusakan cukup parah hingga kini belum mendapatkan bantuan.
“Harapanku semoga bisa dapat bantuan bedah rumah, supaya kami bisa tinggal dengan aman dan anak-anak juga tidak takut lagi,” harapnya.
Bukan Rumah Mewah
Ani tidak sedang bermimpi memiliki rumah besar.
Ia hanya ingin tempat tinggal sederhana yang cukup kuat untuk melindungi dirinya dan anak-anaknya dari hujan, panas, serta ancaman bangunan roboh.
Ia ingin anak-anaknya tetap dapat bersekolah tanpa harus memikirkan apakah rumah mereka akan tetap berdiri ketika mereka pulang.
Di rumah panggung yang mulai kehilangan kekuatannya itu, Ani masih menjalani rutinitas yang sama.
Bangun, bekerja ketika ada kesempatan, mencari nafkah, lalu kembali menemani anak-anaknya.
Ia tahu kondisi rumahnya berbahaya. Tetapi selama belum ada tempat lain untuk dituju, rumah itu tetap menjadi satu-satunya tempat yang bisa ia pertahankan.
Harapan Ani kini sederhana: sebelum tiang terakhir rumah itu patah dan bangunan benar-benar roboh, ada perhatian yang datang.
Sebab di balik rumah yang nyaris kehilangan kekuatannya itu, ada seorang ibu yang masih berjuang mempertahankan satu hal yang jauh lebih berharga—masa depan anak-anaknya.
Penulis : Redaksi
Editor : Idhul Abdullah




















