DIKSIKU.com, Jakarta – Serangan militer Israel kembali menghantam Jalur Gaza meski negara tersebut telah bergabung dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang diprakarsai Amerika Serikat. Pada Sabtu (31/1/2026), serangan udara dan bombardir dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah permukiman dan lokasi pengungsian warga sipil.
Laporan otoritas medis setempat mencatat sedikitnya 31 warga Palestina tewas dalam rangkaian serangan tersebut, termasuk enam anak-anak. Serangan ini berlangsung satu hari sebelum Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir.
Mengutip Al Jazeera, Minggu (1/2/2026), sumber medis menyebutkan serangan berlangsung hampir tanpa jeda dan menyasar kawasan padat penduduk. Salah satu serangan terjadi di wilayah al-Mawasi, barat laut Khan Younis, ketika sebuah tenda pengungsian terkena hantaman jet tempur Israel. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk tiga anak-anak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Jenazah para korban dievakuasi ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Sementara itu, serangan udara lain di kawasan Remal, Kota Gaza bagian barat, menghantam sebuah gedung apartemen dan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk seorang perempuan dan tiga anaknya.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan bahwa ledakan besar disertai kepulan debu tebal terjadi di lokasi serangan. Selain korban tewas, delapan warga Palestina dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan terhadap bangunan lain di lingkungan Daraj, Kota Gaza.
Mahmoud menyebut sebagian serangan terjadi di wilayah yang seharusnya masuk dalam zona gencatan senjata tahap pertama yang mulai berlaku pada Oktober lalu. Ia juga melaporkan sebuah bangunan di Khan Younis hancur total akibat serangan udara, meskipun militer Israel sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada warga.
Serangan terbaru ini menuai kecaman internasional. Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa gencatan senjata yang sedang berlaku tidak dijalankan secara efektif. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata seharusnya menghentikan kekerasan dan membuka jalan menuju penghentian perang.
Mesir dan Qatar sebagai mediator utama juga menyampaikan keprihatinan. Mesir menyerukan pengekangan maksimal dari semua pihak, sementara Qatar menilai serangan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang dapat mengganggu upaya memperkuat gencatan senjata.
Pihak militer Israel menyatakan bahwa serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh kelompok bersenjata Palestina di Rafah. Israel mengklaim telah menargetkan sejumlah komandan dan anggota Hamas serta Jihad Islam. Klaim tersebut dibantah oleh Hamas, yang menyebut serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebutkan bahwa sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan, sedikitnya 524 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel.
Di tengah situasi tersebut, Israel dijadwalkan membuka kembali penyeberangan Rafah secara terbatas pada Minggu. Israel menyatakan hanya mengizinkan pergerakan orang tertentu yang telah mendapatkan izin keamanan, sementara bantuan kemanusiaan belum diperbolehkan masuk melalui jalur tersebut.
Otoritas kesehatan di Gaza memperingatkan bahwa kondisi medis semakin kritis akibat terbatasnya pasokan obat-obatan dan peralatan kesehatan. Mereka mendesak dibukanya akses bantuan serta evakuasi korban luka untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza.
Sejak operasi militer Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, lebih dari 71.600 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia, dengan mayoritas korban merupakan warga sipil.
Penulis : Redaksi Diksiku
Editor : Idul Abdullah
Sumber Berita : detikcom



















