Kenali Bahaya Rabies, Penyakit Mematikan yang Menular Lewat Gigitan Hewan

- Editor

Sabtu, 17 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

A male German shepherd bites a man by the hand.

i

A male German shepherd bites a man by the hand.

DIKSIKU.com, Jakarta – Rabies merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan hewan. Penyakit ini disebabkan oleh Lyssavirus dan dikenal sangat berbahaya karena dapat berujung pada kematian apabila tidak segera ditangani setelah paparan.

Penularan rabies ke manusia umumnya terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka dan menyebar secara perlahan menuju otak. Hewan yang paling sering menjadi sumber penularan adalah anjing, diikuti kucing dan kera, serta sejumlah hewan liar.

Di Indonesia, data menunjukkan sekitar 98 persen kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. Sisanya berasal dari kucing dan kera. Kondisi ini menjadikan rabies sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai secara serius, terutama di wilayah dengan populasi anjing yang tinggi.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah seseorang tergigit hewan yang terinfeksi rabies, penyakit ini tidak langsung menimbulkan gejala. Masa inkubasi umumnya berlangsung antara satu hingga tiga bulan, meski pada beberapa kasus dapat lebih singkat atau lebih lama. Letak luka gigitan berpengaruh terhadap kecepatan penyebaran virus, di mana gigitan yang lebih dekat ke kepala berisiko menimbulkan gejala lebih cepat.

Baca Juga :  Kementerian Pariwisata Pastikan Pantai Losari Siap Sambut Libur Nataru 2024-2025

Gejala awal rabies sering kali tidak khas dan menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, sakit kepala, hilang nafsu makan, serta rasa tidak nyaman di sekitar bekas gigitan. Pada tahap lanjutan, penderita mulai mengalami gangguan saraf berupa kesulitan menelan, ketakutan terhadap air dan angin, perubahan perilaku, halusinasi, kejang, hingga produksi air liur berlebihan.

Jika tidak ditangani, kondisi akan memburuk ke tahap akhir yang ditandai dengan kelumpuhan, koma, kegagalan organ, khususnya pernapasan, hingga berujung kematian. Pada fase ini, rabies hampir selalu bersifat fatal.

Baca Juga :  Bupati Sinjai Sabet Penghargaan Nasional di JCC Senayan Jakarta

Untuk menekan risiko kematian, penanganan dini menjadi kunci utama. Masyarakat yang mengalami gigitan atau cakaran hewan dianjurkan segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, kemudian mengoleskan antiseptik. Setelah itu, korban harus segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan.

Dalam kasus paparan rabies, tenaga medis akan memberikan Rabies Post Exposure Prophylaxis (PEP), yang meliputi perawatan luka, pemberian Human Rabies Immune Globulin (HRIG), serta Vaksin Anti Rabies (VAR). Skema vaksinasi berbeda bagi individu yang belum pernah maupun yang sudah pernah mendapatkan vaksin rabies sebelumnya.

Upaya pencegahan rabies juga sangat bergantung pada vaksinasi hewan peliharaan secara rutin, pengawasan terhadap hewan liar, serta kesadaran masyarakat untuk segera melapor jika terjadi gigitan. Dengan langkah pencegahan yang tepat dan penanganan cepat, risiko rabies dapat ditekan dan keselamatan manusia tetap terjaga.

Penulis : Redaksi Diksiku

Editor : Idul Abdullah

Sumber Berita : klikdokter

Berita Terkait

Sederet Pembangunan Nyata Gubernur Sulsel Warnai 27 Tahun Luwu Utara
Perombakan Kemenkeu: Dua Dirjen Dicopot, Plh Langsung Ditunjuk
Kebijakan Baru Kemendagri: Mobil Listrik Kini Dikenai PKB dan SWDKLLJ
Setelah Motor MBG Diperdebatkan, Kini Ribuan Truk Rp 10,8 Triliun Disorot Publik
Diplomasi Indonesia Diuji, Kapal Pertamina Tak Kunjung Keluar dari Selat Hormuz
BNNK Kendal Resmikan IBM Berkelanjutan 2026 di Plantaran, Perkuat Rehabilitasi Berbasis Masyarakat
Bitcoin Tertekan Tajam, Pintu Futures Hadirkan 5 Fitur Andalan Untuk Redam Risiko
Tren Kemiskinan Sulsel Terus Menurun, Andi Sudirman Apresiasi Kerja Kolaboratif

Berita Terkait

Rabu, 29 April 2026 - 10:56 WITA

Sederet Pembangunan Nyata Gubernur Sulsel Warnai 27 Tahun Luwu Utara

Rabu, 22 April 2026 - 20:00 WITA

Perombakan Kemenkeu: Dua Dirjen Dicopot, Plh Langsung Ditunjuk

Selasa, 21 April 2026 - 12:27 WITA

Kebijakan Baru Kemendagri: Mobil Listrik Kini Dikenai PKB dan SWDKLLJ

Jumat, 10 April 2026 - 14:06 WITA

Setelah Motor MBG Diperdebatkan, Kini Ribuan Truk Rp 10,8 Triliun Disorot Publik

Minggu, 29 Maret 2026 - 20:59 WITA

Diplomasi Indonesia Diuji, Kapal Pertamina Tak Kunjung Keluar dari Selat Hormuz

Jumat, 27 Februari 2026 - 21:10 WITA

BNNK Kendal Resmikan IBM Berkelanjutan 2026 di Plantaran, Perkuat Rehabilitasi Berbasis Masyarakat

Senin, 16 Februari 2026 - 14:10 WITA

Bitcoin Tertekan Tajam, Pintu Futures Hadirkan 5 Fitur Andalan Untuk Redam Risiko

Jumat, 6 Februari 2026 - 10:31 WITA

Tren Kemiskinan Sulsel Terus Menurun, Andi Sudirman Apresiasi Kerja Kolaboratif

Berita Terbaru