DIKSIKU.com, Blora – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola baru dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan sistem prasmanan. Melalui skema ini, siswa diberikan kesempatan mengambil sendiri makanan sesuai kebutuhan dan porsi yang mereka inginkan.
Uji coba tersebut dimulai di SDN 5 Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngawen 1, Senin (5/10/2026).
Sistem prasmanan ini berbeda dengan mekanisme sebelumnya yang memberikan makanan dalam porsi yang telah ditentukan. Para siswa kini mengambil makanan secara mandiri dengan harapan makanan yang diambil dapat disesuaikan dengan selera dan kebutuhan masing-masing.
Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Blora, Artika Diannita, mengatakan penerapan sistem tersebut mengacu pada Nota Dinas Deputi Sistem Tata dan Kelola Nomor 43 tertanggal 30 September 2026.
“SPPG Ngawen 1 merupakan satu dari 42 SPPG di berbagai wilayah Indonesia yang ditunjuk untuk menjalankan uji coba sistem ini,” ujar Artika dalam keterangan pers yang diterima tvOnenews.com, Senin (5/10/2026).
Pada hari pertama pelaksanaan, sistem tersebut mendapat respons positif dari para siswa. Selain membuat suasana makan lebih menyenangkan, pola prasmanan dinilai dapat mengurangi makanan yang tersisa dan terbuang.
“Kalau kita lihat anak-anak lebih antusias, lebih senang ketika mereka dapat mengambil makanannya sendiri karena bisa disesuaikan sama keinginan. Jadi ngambilnya sesuai, enggak dibuang-buang,” ungkap Artika.
Sistem ini juga memungkinkan makanan dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat karena makanan langsung diambil setelah disajikan.
Mitra SPPG Ngawen 1, Febrian Candra, menjelaskan konsep tersebut dikembangkan setelah BGN melakukan studi tiru terhadap sistem makan sekolah di Jepang yang dikenal dengan istilah Kyushoku.
Menurutnya, penerapan prasmanan dalam MBG tidak hanya berkaitan dengan teknis pembagian makanan. Sistem tersebut juga diarahkan untuk membangun kebiasaan positif dan karakter siswa sejak usia dini.
“Di dalamnya ada integrasi edukasi gizi dan karakter, keterlibatan aktif peserta didik, pengendalian sisa makanan (zero food waste), pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pembentukan budaya makan positif,” terang Febrian.
Sementara itu, siswa kelas 5 SDN 5 Ngawen, Remo Bimo Giwantoro, mengaku senang dengan mekanisme baru tersebut karena bisa memilih sendiri jumlah makanan yang akan diambil.
“Iya senang bisa ambil sendiri, bisa ambil banyak,” celetuk Remo.
Uji coba sistem prasmanan MBG di SDN 5 Ngawen dijadwalkan berlangsung selama dua pekan. Selama masa tersebut, efektivitas distribusi makanan, tingkat kepuasan siswa, hingga jumlah makanan yang terbuang akan dipantau.
Hasil pemantauan selanjutnya akan dilaporkan kepada BGN pusat sebagai bahan evaluasi untuk menentukan keberlanjutan penerapan sistem prasmanan dalam program MBG di berbagai daerah.
Penulis : Redaksi
Editor : Idhul Abdullah
Sumber Berita : TV One




















