DIKSIKU.com, Jakarta – Perdebatan mengenai hukum mengeluarkan mani di luar vagina (al-‘azl) kembali menjadi perhatian di kalangan umat Islam. Metode yang juga dikenal sebagai coitus interruptus ini kerap dipertanyakan pasangan suami istri yang ingin menunda kehamilan karena alasan ekonomi, kesehatan, hingga kesiapan mental.
Dalam literatur fikih, praktik al-‘azl telah lama dibahas para ulama. Penjelasan ini di antaranya tertuang dalam Fiqih Islam wa Adillatuh karya Syekh Wahbah az-Zuhayli, yang menyebut bahwa pendapat ulama mengenai hukum al-‘azl tidak bersifat tunggal.
Syekh Wahbah az-Zuhayli menjelaskan bahwa sebagian ulama dari mazhab Syafi’i dan Hanbali menilai praktik tersebut makruh. Pandangan itu merujuk pada hadis riwayat Muslim dari Aisyah RA, yang menyebut al-‘azl sebagai perbuatan “pembunuhan samar”. Meski demikian, larangan tersebut dipahami sebagai makruh tanzih, yaitu tidak berdosa bila dilakukan namun lebih baik dihindari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kutipan kitab tersebut dijelaskan:
“Hanya ulama dari kalangan madzhab Syafi’i, Hanbali, dan sejumlah sahabat menyatakan kemakruhan azal… Namun Imam Al-Ghazali membolehkan azal karena sejumlah sebab, salah satunya banyaknya kesulitan akibat banyaknya anak.”
Syekh Wahbah menambahkan bahwa penggunaan kontrasepsi modern seperti pil KB atau alat pencegah kehamilan lainnya diperbolehkan, selama pemakaiannya bersifat sementara dan tidak menutup peluang kehamilan secara permanen.
Hadis lain yang menunjukkan adanya ruang kebolehan praktik al-‘azl juga diriwayatkan dari Jabir RA. Dalam Bulughul Maram disebutkan bahwa para sahabat melakukan al-‘azl pada masa Rasulullah SAW ketika wahyu masih turun, dan Nabi tidak memberikan larangan tegas.
“Kami biasa melakukan ‘azl pada zaman Rasulullah SAW… Jika itu dilarang, tentu Al-Qur’an melarang kami,” demikian bunyi hadis tersebut.
Meski begitu, perbedaan pendapat ulama tetap muncul karena adanya beberapa riwayat yang memberi kesan larangan sementara praktik sahabat menunjukkan kebolehan.
Imam Al-Ghazali menjadi salah satu ulama yang memberikan pandangan lebih longgar. Ia menilai bahwa al-‘azl dapat dibolehkan ketika terdapat alasan kuat, seperti risiko kesehatan, tekanan ekonomi, atau kekhawatiran munculnya beban berat akibat banyaknya anak. Pertimbangan ini dianggap selaras dengan prinsip pencegahan mudarat dalam syariat.
Dalam konteks modern, sejumlah ulama kontemporer menilai alasan yang dikemukakan Al-Ghazali semakin relevan, terutama berkaitan dengan kebutuhan kesehatan, pendidikan, hingga tekanan ekonomi keluarga. Karena itu, perencanaan kehamilan melalui al-‘azl atau metode kontrasepsi lain dianggap bagian dari upaya menjaga kemaslahatan.
Para ulama juga menekankan pentingnya persetujuan bersama antara suami dan istri, karena hak memperoleh keturunan merupakan hak kedua belah pihak.
Secara umum, praktik al-‘azl berada pada wilayah mubah hingga makruh, bergantung pada tujuan dan kondisi pasangan. Selama tidak menimbulkan mudarat dan dilakukan atas dasar kesepakatan, metode ini dinilai tidak haram dan dapat menjadi bagian dari perencanaan keluarga yang bertanggung jawab.
Penulis : Redaksi Diksiku
Editor : Rahmah M
Sumber Berita : detikcom



















