DIKSIKU.com, Kupang — Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) terus bertambah. Hingga Minggu (16/8/2026) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 53 orang meninggal dunia.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan, angka tersebut merupakan data sementara yang masih terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan.
“Korban jiwa meninggal dunia per sore ini total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia,” ujar Abdul Muhari dalam konferensi pers, Minggu.
Selain korban meninggal, sebanyak 135 orang dilaporkan mengalami luka-luka dan masih mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan.
Gempa tersebut juga menyebabkan kerusakan pada puluhan hingga ratusan bangunan warga. BNPB mencatat 154 rumah mengalami rusak berat, 49 rumah rusak sedang, dan 38 rumah lainnya rusak ringan.
Abdul Muhari menegaskan, jumlah korban maupun kerusakan masih berpotensi berubah karena proses verifikasi dan validasi data masih berlangsung.
“Tentu saja data berkembang dinamis, dan akan melakukan percepatan dalam validasi data,” katanya.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026). Pusat gempa disebut berada di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Besarnya dampak bencana membuat Pemerintah Provinsi NTT menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari. Status tersebut berlaku mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan penetapan status tanggap darurat diperlukan agar proses penanganan pascabencana dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.
“Penetapan status tanggap darurat dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak bencana, sekaligus mempermudah akses, koordinasi, dan komunikasi antarpihak dalam mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia,” kata Melki dalam keterangannya di Kupang, Minggu.
Pemerintah bersama BNPB dan unsur terkait kini masih melakukan penanganan terhadap korban serta pendataan dampak gempa di sejumlah wilayah terdampak.
Penulis : Redaksi
Editor : Idhul Abdullah
Sumber Berita : CNN




















