Sistem War Ticket Haji Dipertanyakan, DPR: Bisa Untungkan Orang Kaya

- Editor

Selasa, 14 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DIKSIKU.com, Jakarta – Wacana penerapan sistem “war ticket” dalam penyelenggaraan ibadah haji mendapat sorotan dari DPR RI. Menanggapi hal tersebut, Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf menyatakan kesiapan untuk menghentikan sementara gagasan tersebut apabila dinilai belum tepat untuk diterapkan saat ini.

 

“Kalau itu dianggap sebagai terlalu prematur ya akan kita tutup dulu sampai hari ini, sambil kita menyelesaikan haji kita yang sudah di depan mata,” kata Irfan dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Irfan mengakui bahwa dirinya merupakan pihak yang pertama kali mengemukakan istilah tersebut dan menyatakan bertanggung jawab atas munculnya wacana tersebut.

 

“Ini yang sempat rame ini, saya akui war ticket, war ticket ini memang wacana yang sedang kita bahas di Kementerian Haji dan kalau kita ditanya siapa yang bertanggung jawab, sayalah orang yang pertama melontarkan istilah war ticket ini,” ujar Irfan.

 

Kritik terhadap wacana tersebut datang dari Ketua Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang. Ia menilai skema tersebut berpotensi menimbulkan ketimpangan karena lebih menguntungkan masyarakat yang memiliki kemampuan finansial lebih besar.

Baca Juga :  Hacker Iran Lancarkan Serangan Digital, Email Pribadi Direktur FBI Diretas, Data Bocor ke Publik

 

“Umpamanya kalau war ticket, terus yang akan berburu ini siapa? Yang berburu tiket ini orang-orang kaya kan? Berarti si orang kaya tidak harus dibatasi juga. Kalau diberi ruang bebas, maka orang-orang tidak akan berhaji. Maka akan ada kecemburuan juga,” ujar Marwan saat ditemui di Gedung DPR RI, Jumat (10/4/2026).

 

Marwan menegaskan bahwa mekanisme penyelenggaraan haji telah diatur dalam regulasi yang berlaku dan menekankan sistem pendaftaran, bukan mekanisme berburu tiket.

 

“Di situ disebutkan ya mendaftar, nggak bisa berburu tiket. Sama halnya waktu Undang-Undang ini, Undang-Undang 8 2019, sama. Tetap aja mendaftar,” kata Marwan.

 

Ia juga mengingatkan potensi ketidakadilan jika skema tersebut diterapkan.

 

“Jangan nanti akan ada pengumuman orang miskin dilarang berhaji, kan gitu nanti,” ujarnya.

 

Pandangan serupa disampaikan Anggota Komisi VIII DPR RI Atalia Praratya. Ia menilai sistem tersebut berpotensi merugikan masyarakat yang telah lama menabung untuk berhaji.

Baca Juga :  Rusia Panen Cuan di Tengah Perang Iran vs AS-Israel, Rp12 Triliun Sehari

 

“Bagaimana dengan ibu-ibu di kampung yang sudah menabung 20 tahun? Bagaimana dengan kakek-nenek kita yang gaptek? Mereka akan tersisihkan,” ujar Atalia, Jumat (10/4/2026).

 

Menurut Atalia, sistem berbasis kecepatan akses dan kemampuan finansial berisiko menciptakan ketimpangan baru.

 

“Ibadah haji adalah panggilan jiwa, bukan ajang balapan klik. Jika sistem war ticket diterapkan, maka yang akan menang adalah mereka yang memiliki gawai super cepat, koneksi internet terbaik, dan kemampuan finansial instan,” ucapnya.

 

Meski demikian, ia memahami upaya pemerintah dalam mencari solusi atas panjangnya antrean haji yang bisa mencapai puluhan tahun. Namun, ia menilai kebijakan tersebut masih perlu kajian lebih mendalam.

 

“Kita semua sepakat bahwa menunggu hampir tiga dekade adalah waktu yang terlalu lama. Namun, solusi tidak boleh lahir dari ketergesaan yang justru menimbulkan masalah baru y

ang lebih besar,” kata Atalia.

Loading

Penulis : Redaksi Diksiku

Editor : Frida Rijal

Sumber Berita : Kompas

Berita Terkait

Rusia Panen Cuan di Tengah Perang Iran vs AS-Israel, Rp12 Triliun Sehari
Hacker Iran Lancarkan Serangan Digital, Email Pribadi Direktur FBI Diretas, Data Bocor ke Publik
Iran Kehilangan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Akibat Serangan AS-Israel
Gabung Dewan Perdamaian, Israel Justru Bombardir Kamp Pengungsi Gaza
Ketegangan Memanas, Kapal Induk AS Bergerak Menuju Timur Tengah
Tiga Kasus Korupsi Menghantam Netanyahu, Presiden Herzog Tolak Beri Grasi
Protes Besar Warnai Ketegangan Politik di Turki, Erdogan Didesak Mundur
Gencatan Senjata Dimulai, Gaza Sambut Harapan Baru di Tengah Konflik Berkepanjangan

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 16:53 WITA

Sistem War Ticket Haji Dipertanyakan, DPR: Bisa Untungkan Orang Kaya

Sabtu, 28 Maret 2026 - 21:17 WITA

Rusia Panen Cuan di Tengah Perang Iran vs AS-Israel, Rp12 Triliun Sehari

Sabtu, 28 Maret 2026 - 15:49 WITA

Hacker Iran Lancarkan Serangan Digital, Email Pribadi Direktur FBI Diretas, Data Bocor ke Publik

Minggu, 1 Maret 2026 - 14:27 WITA

Iran Kehilangan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Akibat Serangan AS-Israel

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:58 WITA

Gabung Dewan Perdamaian, Israel Justru Bombardir Kamp Pengungsi Gaza

Jumat, 16 Januari 2026 - 21:54 WITA

Ketegangan Memanas, Kapal Induk AS Bergerak Menuju Timur Tengah

Selasa, 2 Desember 2025 - 21:54 WITA

Tiga Kasus Korupsi Menghantam Netanyahu, Presiden Herzog Tolak Beri Grasi

Senin, 15 September 2025 - 13:47 WITA

Protes Besar Warnai Ketegangan Politik di Turki, Erdogan Didesak Mundur

Berita Terbaru

Internasional

Sistem War Ticket Haji Dipertanyakan, DPR: Bisa Untungkan Orang Kaya

Selasa, 14 Apr 2026 - 16:53 WITA

Menteri Perdagangan, Budi Santoso. (foto:int)

Ekonomi dan Bisnis

Harga Plastik Melonjak Gila-Gilaan, Pemerintah Putar Otak Cari Pasokan Baru

Selasa, 14 Apr 2026 - 15:10 WITA

Juru bicara KPK, Budi Prasetyo. (int)

Kriminal

Kasus Kuota Haji Memanas, KPK Telusuri Aliran Dana ke DPR

Senin, 13 Apr 2026 - 17:22 WITA