DIKSIKU.com, Jakarta – Rabies merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan hewan. Penyakit ini disebabkan oleh Lyssavirus dan dikenal sangat berbahaya karena dapat berujung pada kematian apabila tidak segera ditangani setelah paparan.
Penularan rabies ke manusia umumnya terjadi melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh melalui luka terbuka dan menyebar secara perlahan menuju otak. Hewan yang paling sering menjadi sumber penularan adalah anjing, diikuti kucing dan kera, serta sejumlah hewan liar.
Di Indonesia, data menunjukkan sekitar 98 persen kasus rabies pada manusia disebabkan oleh gigitan anjing. Sisanya berasal dari kucing dan kera. Kondisi ini menjadikan rabies sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu diwaspadai secara serius, terutama di wilayah dengan populasi anjing yang tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah seseorang tergigit hewan yang terinfeksi rabies, penyakit ini tidak langsung menimbulkan gejala. Masa inkubasi umumnya berlangsung antara satu hingga tiga bulan, meski pada beberapa kasus dapat lebih singkat atau lebih lama. Letak luka gigitan berpengaruh terhadap kecepatan penyebaran virus, di mana gigitan yang lebih dekat ke kepala berisiko menimbulkan gejala lebih cepat.
Gejala awal rabies sering kali tidak khas dan menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, sakit kepala, hilang nafsu makan, serta rasa tidak nyaman di sekitar bekas gigitan. Pada tahap lanjutan, penderita mulai mengalami gangguan saraf berupa kesulitan menelan, ketakutan terhadap air dan angin, perubahan perilaku, halusinasi, kejang, hingga produksi air liur berlebihan.
Jika tidak ditangani, kondisi akan memburuk ke tahap akhir yang ditandai dengan kelumpuhan, koma, kegagalan organ, khususnya pernapasan, hingga berujung kematian. Pada fase ini, rabies hampir selalu bersifat fatal.
Untuk menekan risiko kematian, penanganan dini menjadi kunci utama. Masyarakat yang mengalami gigitan atau cakaran hewan dianjurkan segera mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit, kemudian mengoleskan antiseptik. Setelah itu, korban harus segera mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan.
Dalam kasus paparan rabies, tenaga medis akan memberikan Rabies Post Exposure Prophylaxis (PEP), yang meliputi perawatan luka, pemberian Human Rabies Immune Globulin (HRIG), serta Vaksin Anti Rabies (VAR). Skema vaksinasi berbeda bagi individu yang belum pernah maupun yang sudah pernah mendapatkan vaksin rabies sebelumnya.
Upaya pencegahan rabies juga sangat bergantung pada vaksinasi hewan peliharaan secara rutin, pengawasan terhadap hewan liar, serta kesadaran masyarakat untuk segera melapor jika terjadi gigitan. Dengan langkah pencegahan yang tepat dan penanganan cepat, risiko rabies dapat ditekan dan keselamatan manusia tetap terjaga.
Penulis : Redaksi Diksiku
Editor : Idul Abdullah
Sumber Berita : klikdokter



















