DIKSIKU.com, Purwakarta – Guru di SMAN 1 Purwakarta, Syamsiah menjadi sorotan setelah dirinya menjadi korban penghinaan oleh sejumlah siswa yang videonya viral di media sosial.
Dalam video tersebut, terlihat beberapa siswa menunjukkan gestur tidak sopan seperti mengacungkan jari tengah dan menjulurkan lidah ke arah kamera, sementara Syamsiah berada membelakangi mereka.
Syamsiah yang akrab disapa Bu Atun merupakan guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) yang telah mengabdi sejak tahun 2003. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa dirinya direkam saat kejadian berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” ungkap Syamsiah.
Peristiwa tersebut menjadi pengalaman pertama yang ia alami selama lebih dari dua dekade mengajar. Meski sempat merasa sedih, Syamsiah berusaha menguatkan diri melalui nilai keimanan yang diyakininya.
“Sedih itu manusiawi, tapi keimanan saya jadikan obat untuk menyembuhkan luka hati, agar anak-anak saya selamat dunia akhirat,” ucapnya.
Alih-alih membawa masalah ini ke ranah hukum, Syamsiah memilih untuk memaafkan para siswa. Ia bahkan mendoakan mereka agar dapat menyadari kesalahan dan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya,” katanya.
Menurutnya, peran seorang guru bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan memperbaiki karakter siswa. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk berubah.
“Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” ujarnya.
Syamsiah juga menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat sedikit pun untuk melaporkan para siswa tersebut. Ia lebih memilih pendekatan pembinaan dibanding hukuman.
Sementara itu, pihak sekolah telah memberikan sanksi sosial kepada sembilan siswa yang terlibat. Mereka diwajibkan menjalani pembinaan selama tiga bulan dengan kegiatan seperti membersihkan lingkungan sekolah.
Kepala SMAN 1 Purwakarta, Sidik Tamsil menjelaskan bahwa sanksi tersebut bertujuan membentuk karakter siswa tanpa menghilangkan hak mereka untuk tetap belajar.
“(Sanksi) ini akan dievaluasi berdasarkan perubahan sikap para siswa,” ujarnya.
Selain itu, sekolah juga melakukan berbagai langkah untuk menjaga kondisi psikologis para siswa, termasuk menyediakan pendampingan serta mengatur pembelajaran di ruang terpisah.
Pihak sekolah berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh siswa mengenai pentingnya adab dan etika dalam proses belajar.
Penulis : Redaksi Diksiku
Editor : Frida Rijal
Sumber Berita : Tribunstyle.com



















