Tenaga Honorer Terancam, Arfian Arsyad Nilai Pemkot Bontang Punya Solusi Manusiawi

- Editor

Minggu, 22 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi serius antarperangkat daerah membahas skema transisi tenaga honorer jelang 30 Juni 2025. (ist)

i

Diskusi serius antarperangkat daerah membahas skema transisi tenaga honorer jelang 30 Juni 2025. (ist)

DIKSIKU.com, Bontang – Tenggat waktu penghapusan tenaga honorer yang ditetapkan pemerintah pusat semakin dekat. Di Bontang, ribuan tenaga non-ASN di lingkungan pemerintah kota dipastikan akan mengakhiri masa tugasnya pada 30 Juni 2025. Meski situasi ini memicu kekhawatiran di berbagai daerah, Pemkot Bontang justru dianggap telah mengambil langkah antisipatif yang berpihak pada para honorer.

Arfian Arsyad, pemerhati kebijakan publik di Bontang, menyatakan bahwa Pemkot tidak sekadar mengikuti regulasi, melainkan turut menyiapkan alternatif solusi yang dinilai realistis dan berkeadilan. Ia menilai, kebijakan ini menunjukkan adanya kepedulian terhadap keberlanjutan nasib ribuan tenaga honorer yang terdampak.

“Saya melihat Pemkot tidak tinggal diam. Mereka menyiapkan skema transisi yang cukup masuk akal dan patut mendapat dukungan,” kata Arfian, Sabtu (22/6/2025).

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu skema yang disiapkan adalah pengalihan peran honorer ke dalam sistem pengadaan barang dan jasa melalui Unit Kerja Pengadaan Barang/Jasa (UKPBJ). Dengan kontrak kerja berbasis e-katalog, para tenaga non-ASN tetap dapat terlibat dalam pekerjaan pemerintah secara sah, tanpa perlu masuk dalam pola outsourcing yang selama ini banyak menuai kritik.

Baca Juga :  Serapan Anggaran Damkar Bontang Nyaris 96 Persen, Pansus LKPJ Tetap Minta Evaluasi

Menurut Arfian, pendekatan ini lebih layak dan memberikan kepastian kerja, meskipun dalam struktur yang berbeda dari sebelumnya. Selain itu, pemerintah juga membuka opsi bagi honorer yang ingin beralih ke sektor kewirausahaan.

“Pemerintah memberi peluang bagi yang ingin berwirausaha. Ini bentuk diversifikasi solusi. Ada pelatihan, pendampingan, hingga dukungan permodalan yang sudah mulai disiapkan,” ujarnya.

Meski demikian, Arfian mengingatkan bahwa setiap jalur yang ditawarkan memiliki tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ia mendorong para honorer untuk lebih memahami potensi dan minat pribadi sebelum menentukan pilihan.

Baca Juga :  DPRD Bontang Setuju Retribusi Bontang Kuala Dihentikan Sementara

“Pemerintah sudah membuka jalan. Tapi pilihan ada di tangan para honorer. Mereka perlu bersikap tegas dan fokus pada jalur yang mereka tempuh,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran aktif setiap perangkat daerah dalam mendampingi proses transisi ini. Menurutnya, komunikasi yang jelas dan terbuka sangat dibutuhkan agar tidak ada tenaga honorer yang merasa kebingungan atau tertinggal dalam proses.

“Transisi ini tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri. Dibutuhkan kepemimpinan yang hadir dan terlibat. OPD harus memastikan informasi sampai kepada semua pihak yang terdampak,” tandasnya.

Dengan pendekatan bertahap dan berbasis pilihan rasional ini, Arfian optimistis bahwa penghentian status honorer tidak harus diartikan sebagai krisis. Sebaliknya, ini bisa menjadi momentum bagi para tenaga non-ASN untuk menemukan peran baru yang lebih sesuai dengan potensi mereka di luar sistem lama. (adv)

Loading

Penulis : Mra

Editor : Idul Abdullah

Berita Terkait

DPRD Bontang Bahas Legalisasi THM, PAD atau Dampak Sosial Jadi Dilema
Serapan Anggaran Damkar Bontang Nyaris 96 Persen, Pansus LKPJ Tetap Minta Evaluasi
Pansus LKPJ DPRD Bontang Kritik Serapan Anggaran BPBD, Masih Sisakan Belasan Miliar
DPRD Bontang Wanti-Wanti SiLPA Rp50 Miliar, Soroti Dua Pos Anggaran Jadi Biang Kerok
DPRD Bontang Setuju Retribusi Bontang Kuala Dihentikan Sementara
Soroti Penyakit OPD, Pansus LKPJ: Jika SILPA Tak Ditekan, Bontang Bisa Tiarap
Pansus LKPJ DPRD Bontang Rapat Maraton di Hari Libur, Bonnie Sukardi: Waktu Tinggal Tiga Hari
Pansus LKPJ DPRD Bontang Temukan Kelemahan OPD, Tidak Berani Tolak Anggaran yang Sulit Direalisasikan

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 22:49 WITA

DPRD Bontang Bahas Legalisasi THM, PAD atau Dampak Sosial Jadi Dilema

Senin, 11 Mei 2026 - 18:31 WITA

Serapan Anggaran Damkar Bontang Nyaris 96 Persen, Pansus LKPJ Tetap Minta Evaluasi

Senin, 11 Mei 2026 - 17:33 WITA

Pansus LKPJ DPRD Bontang Kritik Serapan Anggaran BPBD, Masih Sisakan Belasan Miliar

Senin, 11 Mei 2026 - 17:13 WITA

DPRD Bontang Wanti-Wanti SiLPA Rp50 Miliar, Soroti Dua Pos Anggaran Jadi Biang Kerok

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:48 WITA

Soroti Penyakit OPD, Pansus LKPJ: Jika SILPA Tak Ditekan, Bontang Bisa Tiarap

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:37 WITA

Pansus LKPJ DPRD Bontang Rapat Maraton di Hari Libur, Bonnie Sukardi: Waktu Tinggal Tiga Hari

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:22 WITA

Pansus LKPJ DPRD Bontang Temukan Kelemahan OPD, Tidak Berani Tolak Anggaran yang Sulit Direalisasikan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:06 WITA

DPRD Bontang Dukung Penuh Setwan FC Tampil Dominan di Kapolres Cup

Berita Terbaru